sesungnguhnya diantara bayan(untaian kata) adalah sihir... dengan menulis kita bisa menguasai dan mengubah dunia. sebaik-baik pengubah adalah yang mengubahnya menjadi lebih baik lagi.. Allahuakbar!!!
Senin, 18 Juni 2012
pidato "rosulullah idolaku"
ROSULULLAH IDOLAKU
Asalamualaikum wr.wb
Hamdan wasukron lillah, ama ba’adu
Puji syukur kehadiat illahi Robbi, Tuhan yang menciptakan kita
Solawat salam semoga tetap tercurahkan kepada rosul idola kita, Muhammad saw
Para juri dan teman-teman sekalian, kalau saya ditanya siapa yang saya cintai setelah cinta sama Allah, tentu saya menjawab, saya cinta Rosullullah, setelah itu baru cinta orang tua, seperti lagunya tepuk cinta.
Tepuk cinta
Pertama aku cinta pada allah
Kedua aku cinta Rosullulah
Ketiga aku cinta pada ayah dan bunda
Saudara seiman dan seagama
Mengapa aku cinta rosullulah dan mengapa aku mengidolakan rosullullah?
Karena Rosulullah itu nabi terakhir, yang Allah utus selain mengajarkan agama yang baik, yaitu agama islam, juga nabi Muhammad itu memberikan contoh yang baik untuk kita semua. Semua perbuatan nabi dan sifat-sifat nabi dari bangun tidur sampai mau tidur lagi, semuanya adalah baik. Jadi kalau mau jadi orang yang baik, disayang Allah, disayang Ibu bapak, disayang kakak, dan disayang semua, kita mau meniru perilaku dan sifat nabi.
Kita tahu, dan sama-sama tahu, bahwa nabi kita, Muhammad saw, telah lama meninggal, bahkan orang tua kita juga tidak berjumpa, apa lagi kita, bagaimana kita meniru dan mencontoh orang yang tidak ada?
Bukankah kita sering mendengar dan mukin membaca kisah para nabi Allah yang berjumlah 25 itu? Kalau kita dengarkan baik-baik, kita pikirkan, ternyata nabi-nabi Allah itu luar biasa ya? Apa lagi nabi kita Muhammad saw. Beliau itu menurut saya adalah nabi yang paling sempurna, terutama sempurna akhlaknya.
Kenapa saya katakana Rosulullah itu mempunyai aklaq yang mulia atau sempurna?
Karena perilaku, perbuatan, sifat nabi itu bagus semua dan baik semua semua. Saya tunjukan beberapa contoh bahwa nabi itu sempurna akhlaqnya atau berakhlaq mulia.
1. Rosulullah itu orang yang jujur
Jujur itu tidak berbohong, tidak berbohong itu tidak berdusta, tidak berdusta itu, berkata apa adanya, tanpa dikurangi maupun ditambah-tambahi.
Sifat jujur sering nabi tunjukan dalam berjualan, Karena nabi itu seorang pedagang, kalau ada salah satu barang dagangan ada yang rusak atau busuk, nabi menjelaskannya pada pembeli, jadi pembeli tidak kecewa atau marah, karena sifat jujurnya itu, barang dagangan nabi selalu habis, karena orang yang jujur akan disayang semua.
Kalau kita sebagai seorang murid atau santri, sifat jujur, kita ditunjukan salah satunya dengan tidak mencontek pada saat ulangan ataupun ujian, karena mencontek itu berarti nilainya bohong, bukan nilai kita yang asli.
Selain itu bukankah ada 2 malaikat yang terus mengawasi kita?
Ada malaikat Rokib dan Atid, kalau kita berlaku jujur atau baik, maka malaikat Rokib akan tersenyum dan mencatat amal kita, sebalikknya kalau kita berbohong atau berbuat buruk, maka setan akan tertawa dan malaikat atid akan sedih,karena harus mencatat amal buruk kita.
2. Nabi Muhammad itu mempunyai sifat yang penyayang, kepada semua makhluk Allah, baik itu kepada hewan, tumbuhan, sesame manusia dan lain-lain, kecuali sama iblis atau setan, nabi membencinya karena iblis atau setan adalah makhluk Allah yang durhaka, sesat, dan selalu mengajak manusia pada kejahatan, dan mengajarkan perbuatan yang tidak baik.
Sangat banyak kisah nabi yang menceritakan bahwa nabi itu mempunyai sifat yang penyayang, dan yang paling saya sukai adalah cerita nabi bersama pengemis buta Yahudi,
dalam kisahnya, nabi setiap hari selalu menyempatkan mengunjungi dan memberi makan serta menyaupi pengemis itu dengan sabar, meski setiap kali nabi menyaupinya, pengemis buta itu selalu mencaci maki dan menjelek-jelekan nabi Muhammad, tetapi nabi tidak marah atau benci, melainkan nabi tetap berlaku sabar dan sayang kepada pengemis itu, karena nabi tahu, dia buta sehingga tidak tahu bahwa orang yang selama ini memberi makan dan menyuapinya adalah orang yang ia benci dan selalu ia caci maki, hingga suatu ketika nabi wafat, dan sahabat Abu bakar mencoba melakukan amalan nabi itu.
Datanglah abu bakar pada suatu pagi membawa makanan untuk pengemis itu, setelah bertemu, abu bakar mencoba melakukan hal yang sama yang dilakukan nabi, ia mengunyah terlebih dahulu makanan itu dan menyuapinnya pelan-pelan ke dalam mulut pengemis buta itu, pengemis buta itu makan sambil menjelek-jelekkan nabi, mencaci makinya, sehinga abu bakar menangis, karena melihat kesabaran nabi menghadapi pengemis itu, lama kelamaan, pengemis itu merasakan perbedaan dalam rasa masakan yang masuk dimulutnya, iapun bertanya pada abu bakar
“kenapa rasanya berbeda dengan rasa makanan-makanan sebelumnya, dimana orang yang kemari-kemarin menyuapin saya, kamu bukan orang itu?”
Abu bakar menjawab sambil menagis
“iya, saya bukan orang yang kemarin menyuapin anda, karena orang yang selama ini menyuapin anda telah wafat kemari, dan perlu anda ketahui bahwa ia adalah Rosulullah, Muhammad saw, orang yang setiap saat anda jelek-jelekkan dan anda caci maki”
Mendengar hal itu, pengemis buta yahudi itu langsung menangis karena merasa berdosa, dan malu, menyadari keluar biasaan agama islam yang diajarkan Rosulullah, iapun masuk islam.
Para juri dan teman-teman sekalian, mukin hanya 2 contoh yang dapat saja sampaikan yang menunjukan bahwa nabi mempunyai akhlaq yang mulia, dari 2 contoh itu, selain sifat jujur, penyayang, kita juga melihat sifat sabar nabi, dan sifat-sifat lain yang dapat menjadikan nabi dicintai semua orang.
Jadi kalau mau Allah sayang sama kita, Ibu dan ayah sayang sama kita, teman-teman sayang sama kita, semua orang sayang sama kita, maka kita harus berperilaku, bersikap, dan berbuat kebaikan seperti yang nabi kita contohkan.
Kalau kita mengidolakan seseorang maka kita akan meniru yang ia lakukan, jadi kalau kita mengidolakan Rosulullah, maka kita akan meniru perbuatan Rosulullah.
Demikian, pidato sedikit dari saya, saya berharap semoga bermanfaat, dan terima kasih untuk perhatiannya semua, saya minta maaf jika ada salah, karena kesempurnaan itu hanyalah milik Allah, Tuhan kita.
Wasalamualaikum wr.wb
Kamis, 24 Mei 2012
puisi "Rasaku"
Hatiku luluh
Asaku luntur
Seakan langit runtuh
Kesejukan menjauh
Ketika hatinya tak peka
Pada rasa yang tersemat
Namanya terukur dalam-dalam
Secepat cahaya terhapus sudah
Selasa, 22 Mei 2012
puisi " Aku dan Hidupku"
Aku Dan Hidupku
Ingin aku menggapai bulan
Ingin aku mendaki gunung
Ingin aku lewati lembah
Ingin aku naik keujung ranting pohon
Ingin aku naik ke atap rumah
- Aku ini pernah SD
- Aku ini mantan SMP
- Aku ini alumni SMA
- Aku ini bertitle Sarjana
Melihat rumah mewah aku iri
Mendengar teman sukses aku dengki
Mencium kemewahan hidup, aku ingin
Namun hanya tempurung kelapa yang ku punya
Tanpa ada otak di dalamnya
cerpen " aku dan sekolah Masa Depan
Aku dan Sekolah Masa Depan
Udara pagi itu terasa sejuk, aku terbangun karena kokokan ayam, dan lantunan merdu suara azan subuh yang berkumandang dari musholah sebelah asramahku. Aku merasa semangat hari ini, ku siap melangkah pasti, menatap dunia, hari ini adalah hari pertamaku menjadi guru SD Harapan Bangsa.
Ku telah berdiri di depan pintu gerbang sekolah yang aku melihatnya luar biasa megahnya, hari ini aku sengaja berangkat lebih awal, sehingga wajar kalau yang ku lihat hanyalah keheningan pagi, tebararan dedaunan dimainkan angin. Aku terkagum dengan kemegahan bangunan sekolah didepanku, luar biasa, penataan kelasnya rapi, tanaman tertata indah, ditengan-tengah kelas yang melingkar terdapat kolam ikan dan taman, namun tetap ada lapangan yang digunakan untuk upacara dan olah raga, kalau ini kota Jakarta atau kota Metropolitan aku tak akan berdecap kagum, tapi mengingat bangunan ini berdiri kokoh di desa pinggiran kota kepulauan Irian jaya, benar-benar arsitek yang luar biasa pikirku.
“selamat pagi ibu,, apakah ibu guru baru disekolah ini? Aku terkaget mendengar suara lembut gadis kecil yang tak ku tahu asalnya, tiba-tiba dia telah ada disampingku dan menyapaku. Kulihat sepintas wajahnya, gadis yang manis pikirku, namun akupun terheran dengan penampilannya, bajunya kumal, tak bersepatu hanya beralas kaki, di bahunya tersemat benang yang menyanggah buku kecilnya dan pencil di tangannya, aku terbengong beberapa detik. Belum sempat ku jawab sapaanya, ia keburu pergi bersama temannya yang serupa.
Akupun penasaran dan mencoba mengikutinya dari belakang.mereka berjalan sambil bercanda dan sesekali ku lihat mereka tertawa, berjalan mendekati kantor, masuk ke lorong hingga sampai pada bangunan dibelakang kantor, dan mereka menghilang dibalik pintu itu. Aku ingin melihat ada apa dibalik pintu itu, namun aku mendengar suara dari belakang “ selamat pagi ibu sri, apa yang sedang ibu lakukan disini? Ia adalah kepala sekolah ini, wajah kriputnya, dan rambunya yang sudah beruban, namun wibawanya yang tinggi, aku sudah merasa nyaman dengan Beliau ketika pertama kali bertemu waktu wawancara kemari. Ku putar badanku, dan ku jawab dengan senyuman, “pagi pak, tidak pa, Cuma memperhatikan anak-anak saja” ia memberiku tanda mengikutinya, aku pun berjalan disampingnya, “bagaimana pendapat ibu, tentang sekolah ini” aku tersenyum mendengar itu, dan berkata”sekolah ini luar biasa pak, bangunannya tertata dan mega, namun tetap asri, nuansa cinta pada alam tetap terjaga, itu terbukti dengan banyaknya pohon-pohon produktif yang tetanam di kekeliling taman sekolah seperti, mangga, rambutan dan jambu, bahkan binga-bungapun tertata indah dimasing-masing kelas yang mengelilingi taman, benar-benar arsitek yang patut diancungi 4 jempol pak” ku lihat pak Rohmat Cuma tersenyum.
Tak kusangka aku telah berdiri di depan kantor guru, ukuran 10x7M, cukup luas pikirku, dengan meja guru berjumlah 15 membentuk lingkaran yang ditengahnya ada perlengkapan air minum dan makanan kecil yang akan disediakan tiap paginya dan tiap guru dapat mengambil sendiri sesuai keperluannya, selain itu disudut-sudut ruangan ada beberapa lemari arsip maupun lemari khusus majalah atau buku-buku bacaan ter up to date, dan beberapa pot sebagai penghias, sungguh luar biasa. Ku ditunjukan mejaku oleh beliau, mejaku posisinya seperti angka 7 pada angka jam, sedangkan pak Rohmat menempati angka 12, dan ke 3 meja yang lain ada belakang angka 7,6,dan 5, didesain sedemikian rupa agar ketika rpat semua mata tertuju pada wajah wibawa kepala sekolah, tak lupa papan white board ada dibelakang meja kepala sekolah, semunya tertata tepat pada tempatnya.
Aku mendekati pak rahmat yang sedang sibuk mempersiapkan materi pelajaran, dan memilah-milah buku yang akan dibawanya untuk mengajar. “bapak mengajar dikelas apa pak?” tanyaku padanya membuka percakapan “ kelas orang tua, ibu-ibu dan bapak-bapak dilantai atas” aku terbengong, tak percaya, ternyata sekolah ini juga mengajar orang tua, seakan beliau tahu maksud hatiku, ia menambahi” sekolah ini didirikan bukan hanya untuk anak-anak usia sekolah dasar, namun hingga Smkpun ada, bahkan kami membuka 1 kelas khusus orang tua, dan masing-masing guru bertanggung jawab terhadap kelasnya masing-masing. Saya tahu ibu Sri hanya membaca papan nama di depan gedung yang bertulisan SD Harapan Bangsa, namun tak melihat sebelah selatan yang bertulisan SMP dan SMK serta kelas Manula” mendengar penjelasannya, aku semakin kagum dengan skolah baruku ini. Lebih-lebih pada sosok kepala sekolah yang menjadi idolaku sekarang. Tetapi aku masih berpikir sudah jam 7 namun guru-guru masih belum datang, dan pelajaranpun belum juga dimulai, ku lihat jam tanganku berkali-kali, dan pak rahmat seolah tahu maksudku, ia tersenyum dan berkata sambil memberiku jadwal waktu dan kegiatan yang biasa dilakukan dan arus aku lakukan” ibu sri, di sekolah ini berbeda dengan sekolah-sekolah lain, si sekolah ini jam pertama pelajaran dimulai setengah 8, kemarin waktu wawancara, saya lupa menyampaikan ke saudara, oleh sebab itu saya sengaja datang lebih awal, karena saya yakin, Saudara datang lebih awal, dan kelas yang akan Saudara ajar adalah kelas yang saudara berdiri didepan pintunya, di belakang kantor ini.” Mendengar kalimat terakhir itu aku terdiam dan berpikir, jangan-jangan murid yang akan ku ajar dalah mereka anak-anak tadi, seolah mempunyai indra ke enam beliau dapat membaca pikiranku dan tersenyum sambil mengangukkan kepalanya.
Ku lihat guru-guru mulai berdatangan masuk ke ruangan dan silih berganti, akupun diperkenalkan oleh pak rahmat kepada mereka, mereka adalah guru-guru yang luar biasa, kesan pertamaku kepada mereka adalah ramah, sosialisasinya bagus, mempunyai semangat pendidik yang tinggi, tertlihat dari grafik kehadiran guru di papan depan, dan kompetennya mereka dalam bidang ilmunya masing-masing, sehingga mereka ditempatkan kelas ajarnya sesuai dengan bakat dan minat masing-masing. Lagi-lagi terkagum dengan kepala sekolahku yang satu ini, ia telah menempatkan The R ight man in The right place. Selain itu yang pasti mereka adalah guru-guru yang datang dari berbagai daerah dengan misi Membangun Bangsa melalui perbaikan pendidikan bagi anak-anaknya sebagai calon generasi penerus.
Bel pelajaran pertama telah dimulai, tak sabar aku ingin segera berjumpa dengan murid-muridku, terutama gadis manis yang menyapaku di depan pintu gerbang. Aku telah berdiri di daun pintu ruang kelasku, ku baca papan namanya bertuliskan “Benih Kejayaan bangsa” lucu pikirku.
Ku buka perlahan pintu kelasku, terasa sebuah cahaya perlahan menyerangku, namun pelan-pelan pudar dimakan kesejukan kelas itu. Ku layangkan pandanganku sambil berjalan pada wajah-wajah yang tengah duduk rapi, dengan keheningan, setiap mata melihat langkahku hingga aku merasa seperti ratu yang berjalan dan semua rakyatku menyambutku, namun ku sadar aku bukanlah seorang ratu, maka ku ku sapa mereka sambil ku letakkan tas dan buku dimeja kelasku. “ selamat pagi anak-anak” dari depanku ku lihat gadis manis itu berdiri dan diikuti seluruh penghuni kelas, dan serempak setengah berteriak” Assalamualaikum wr.wb” aku tersenyum, ternyata aku salah mengucapakan salam, ku jawab “walaikum salam wr.wb” ku lihat mereka mulai duduk, dan setelahnya ku lihat beberapa anak mulai berbisik, aku tahu mereka pasti belum pengenalku, maka akupun berdiri dan memperkenalkan diri dihadapan mereka. Namun sekali lagi sifat mereka membuatku tercengang, ketika ku bertanya bagaimana kabarnya, secara serentak tak diberi komando, mereka mengepalkan tangannya dan menjawab “Alhamdulillah, luar biasa, Allahuakbar” benar-benar anak-anak yang luar biasa, siapa gerangan yang mengajarkan mereka pembiasaan yang baik ini? Aku pun bertanya pada mereka, dan hampir serempak mereka berkata Pak Rohmat, aku benar-benar kagum padanya.
Hingga telah sampai waktu istirahat, aku hanya mengisi waktuku untuk saling berkenalan satu sama lain dan saling bercerita pengalaman pribadi, dari situ aku mengetahui keadaan mereka, bahwa mereka adalah anak-anak yang berkeinginan sekolah setinggi-tingginya, namun kondisi orang tua tidak mendukung, keadaan memaksa mereka membagi waktu untuk berkerja dan bersekolah. Selain itu aku baru tahu nama gadis manis tadi, namanya Lintang, dia ketua kelasnya.
Lagi-lagi aku terkagum dengan aturan sekolah baruku, ketika waktu istirahat, murid-murid mendapat makan dari sekolah, mereka tidak membeli makanan di kantin atau warung karena memang tidak ada, sekolah melarangnya jika ada yang berjualan, karena agar murid-muridnya benar-benar konsentrsi dalam belajar dan dapat menabung serta berhemat. Yang unik dari makan yang disediakan sekolah adalah peraturan yang mengharuskan setiap muridnya membagi makanan yang didapat pada ke 3 temannya secara bergilir, hinnga semua teman 1 kelas dapat merasakan pemberiannya, dan agar teratur serta tidak lupa ada buku pemantauannya sehingga tidak akan ada murid yang mendapat makanan dari teman yang sama untuk ke dua kalinya dalam batas waktu yang singkat. Luar biasa sekali, sekolah ini benar-benar menekan persaudaraan. Aku tersenyum melihat pola lucu dan menggemaskan dari murid-muridku, seakan ku lihat kejayaan Bangsa ini ditangan-tangan mereka.
Hari ini jam belajar hanya sampai jam 11, dan saya rasa memang, hampir setiap hari mereka sekolah sampai jam 11, kecuali untuk kakak kelas mereka yang SMP dan SMK, mereka harus bersabar hingga matahari bergeser ke barat beberapa derajat. Ku tata semua buku dari mejaku dan bersiap berdiri memberi salam dan pulang, namun sekali lagi aku tersentak, secara reflek Lintang berdiri dan diikuti semua temannya, memberi salam dan berdiri menyalamiku saru persatu, hingga semua kelas kosong di tinggal penghuninya. Seolah mereka mengajariku secara tidak langsung kebiasaan membuka kelas dan menutup kelas, aku hanya terdiam dan tersenyum, ternyata aku yang terakhir datang harus terakhir pula pulangnya.
Ini merupakan hari yang menyenangkan bagiku, berkenalan dengan sekolah yang luar biasa yang di dalamnya terdapat kepala sekolah dan guru-guru serta murid-murid yang tak kalah luar biasa, hingga dalam hati aku berkata, aku akan betah disekolah ini.
Minggu, 20 Mei 2012
cerpen " Harapan semu seorang pemimpin bag terakhir.
Awal kedatangannya di Irian jaya aziz sempat bingung melihat masyarakat yang begitu sederhana tetapi alam disana begitu asri, mempesona hati, sejuk untuk dirasakan, tidak ia temukan mobil maupun kendaraan mewah lainnya yang telah dipatenkan hanya untuk orang kaya. Begitu menentramkan hati pikirnya. Selama 1 tahun aziz menjadi guru Bhs. Indonesia yang cukup disegani dan dihormati karena sifatnya yang pandai bergaul, cerdas dan senang membantu sesama.
Ditahun ke duanya aziz berkenalan dengan ulama Irian Jaya yang berasal dari Sulawesi, datang ke Irian Jaya demi menyebarkan agama Allah. Aziz memang beragama islam dia menjalankan perintah Allah seperti sholat, puasa, zakat, tetapi semenjak berkenalan dengan ulama Sulawesi, kyai Al-Quraisy, dia memutusakan untuk menjalankan syariat Allah yang ke lima yaitu naik haji
Sepulangnya dari hajinya ia mengubah namanya menjadi Haji Abdul Aziz al-Qodier. Dengan tambahan nama serta statusnya sebagai haji meski umurnya masih 26 th. Warga Irian mengangkatnya sebagai lurah/pimpinan suku. Ia ternyata tidak melupakan impian awalnya untuk duduk dipemerintahan dan aktif menghadiri pertemuan antara lurah. Sehingga banyak kenalan dengan actor-aktor politik dan akhirnya dia berkecimpung di dunia partai, meninggalkan status PNSnya demi cita-cita. Dalam partai politik dia juga berkenalan dengan jodohhnya Nur Hayati dan menikah dalam usianya yang menginjak 30 th. Karir aziz dalam parpol cukup menonjol dan cepat melejit, hingga diangkat sebagai pinpinan parpol di tingkat kabupaten karena kecerdasannya dalam berbicara, kritis, dan berani memberi kritikan pada mereka yang dianggap salah.
Pada usinya yang ke 33 H. Abdul Aziz al-Qodir mencapai cita-citanya duduk dikursi pemerintahan menjadi wakil rakyat sebagai anggota DPR. Dia memperhatikan kinerja para DPR berhubungan dengan para anggota DPR dan mencoba memasukan idiologinya sejak dulu tersimpan dengan aman di dalam pikiran dan hatinya, dan tak sabar ingin segera disampaikan dipemerintahan tentang rakyat Indonesia yang menangis. Apa yang terjadi? semuanya tinggallah angan-angan dan harapan kosong karena apa yang dibayangkan H. Abdul Aziz al-qodir sewaktu muda semunya meleset. Ternyata duduk di kursi pemerintahan tidaklah mudah. Bukan menyangkut bagaimana caranya duduk di kursi pemrintahan tetapi ini masalah bagaimana menjalankan setelah kita disitu.
Jumat, 18 Mei 2012
cerpen Bayangan Cinta
BAYANGAN CINTA
Kokokan ayam jantan telah lama lewat, suara azan shubuhpun telah memanggil sejak tadi, hatiku tak mau bangun, pikiranku masih kalud dengan sikap Arya padaku, dan,hatiku terasa sesak serta galau, hingga membuat mataku terasa berat tuk kubuka meski aku yakin matahari telah menampakkan cahayanya semenjak tadi. Sejenak aku bertanya pada diriku yang buta ini, kenapa dia tega menyiksa kalbuku, menggantungkan cintaku padanya dan membuatku memikirkan setiap hari tentangnya, meski jelas beleum tentu ia memikirkanku, yang pasti sikapnya kemarin padaku menumbuhkan benih kebencian dalam hatiku. Meski ku tak yakin kebencian itu mampu menghapus namanya dalam kalbuku.
Arya Prasetya, dia satu-satunya laki-laki yang ketika melihatnya, hatiku menjadi tenang, ingin sekali terus menatapnya, bercanda bersamanya,serta berbagi cerita dengannya. Aku mengagumi sikapnya, gaya bicaranya yang kalem, sopan, dan karismatiknya yang tinggi, selain itu wajahnya juga lumayan, menjadikan penyemangat diriku untuk selalu ke kampus. Dari awal kuliah hingga sekarang semester 4, aku masih belajar mencintai progam studiku, pendidikan Administrasi Perkantoran, kalau bukan karena Dia yang memutuskan, dan kalau saja aku boleh memilih tentu jurusan pertanian yang aku ambil dan akupun tak perlu membuang waktuku serta selalu belajar menyatukan perasaanku untuk mencintainya. Dari luar kamar terdengar suara ibuku yang berteriak membangunkanku, “Syah,cepetan bangun, nanti kamu terlambat kuliah” “Iya bu”
Sulit sekali membuka mataku, membangunkan badankupun terasa berat, sikap arya membuatku membencinya, kadang aku bertanya “Apa yang salah dariku? Kenapa sikapnya seolah-olah membenciku?” Hari ini malas sekali aku kuliah, tapi aku sangat sayang ibuku, beliau telah berkerja keras sebagai single parent tentulah tidaklah mudah, aku telah berjanji dalam hatiku, kalau seumur hidupku aku tak mau mengecewakannya, dia lentera hidupku, meski penyemangatku telah mati, namun lenteraku masih menyala, aku masih dapat berjalan dalam kegelapanku. Ku putuskan untuk kuliah.
Ku lihat ibuku telah bersiap dengan topi lebar terbuat dari anyaman bambu yang tertempel dikepalanya, serta sebotol air minum dan sebungkus nasi untuk makan siangnya terpengang di tangan kirinya. “Syah, ini uang saku untuk ke 2 adikmu ya, Nina dan Budi” katanya padaku. Ingin rasanya aku bercanda”kalau uang sakuku mana, bu” tapi rasanya hati ini tak tega, aku sudah sangat bersyukur dengan karuniaNya padaku, diizinkan kuliah tanpa biaya pendidikan sepeserpun, meskipun aku harus rela terperosok pada jurusan yang tidak aku impikan apalagi aku cita-citakan.
Kuperhatikan pundak ibuku yang berjalan menuju ladang, ke dua kakinya yang kecil, serta usianya yang tak muda lagi, lebih-lebih kelelahan single perent yang dirasakannya 2 tahun sepeninggal ayahku, rasanya tak sanggup hati ini mempermainkan masa depan dipundakku. Setelah memberikan uang saku untuk ke dua adikku, akupun bergegas pergi ke kampus. Jarak kampus dari rumahku Gunung Kidul 3 km, masih dapat ku kayuh bersama sepeda kesayanganku, pembelian ayah waktu SMA.
Kusandarkan sepeda biruku dideretan parkir khusus sepeda, tiba-tiba Arya dengan buku tebal berjudul“Kepemimpinan” ditangannya, lewat didepanku, tanpa menyapa. Menyebalkan pikirku, tapi entah kenapa meski ia cuek sekali denganku, bahkan akupun pernah menyapanya, ia berpura-pura tak tahu,menjadikan sejenak hati ini sakit, tapi aku tak sanggup menghapus namanya dalam hatiku. Aku hanya bisa memujanya dalam diamku.
“Syah, tunggu, bareng” terdengar suara Nisa teman karibku dari belakang, kubalikkan badanku, ku lihat dia telah berlari kecil menuju arahku dengan tas merahnya serta snak ringan di tangannya. Aku tak merasa kaget kalau yang ditangannya itu makanan, justru aku akan kaget jika yang di tangannya itu buku. Dengan nafas terputus-putus karena harus berlari kecil membawa badan suburnya, tentu membuatnya kelelahan, ia berkata”Tugasku makul makul”Kepemimpinan” belum selesai,aku boleh nyontek tugas kamu ya?Please, Aisyah temanku yang cantik, ok?” mendengar rayuannya, membuat telingaku geli”iya, tapi tugasku tak menjamin benar semua, karena kaukan tahu, aku mengerjakan tugas sebatas mengerjakan” jawabku sambil tertawa. Ku lirik wajahnya, iyapun tertawa sambil berkata”ga masalah bagiku yang penting ngumpulin tugas, lebih baik mengerjakan tugas dan salah daripada ga ngumpulin sama sekali, ya toh?” ku hanya tersenyum, kamipun berjalan ke kelas kami.
Ku lihat dari jauh, Arya sedang duduk didepan kelas, bersama Mutia, gadis tercantik kelasku. Bingung aku hendak bersikap bagaimana di dpannya, ku alihkan saja dia dan hatiku, berbicara tanpa henti dengan Nisa, dan berpura-pura tidak memperhatikan Arya, meski sejujurnya melihatnya bersama Mutia, aku merasa cemburu, tapi aku sadar, aku hanyalah penggemar gelapnya, yang tak seorangpun tahu, bahkan Nisapun tak tahu, karena ini menjadi rahasiaku dengan Allah.
Tak sampe 5 menit aku dan Nisa duduk didalam kelas, dari luar, teman-teman yang awalnya di luar, berbondong-bondong masuk kelas, itu menunjukan dosen telah datang dan kuliah segera dimulai. Ku lihat Arya dan Mutia masuk kelas bersamaan, ku alihkan saja mengajak ngobrol Nisa.
Dosen memerintahkan untuk dikumpulkan sebelum presentasi. Semua tugas telah tertumpuk dimeja dosen, hari ini giliran kelompok Arya yang maju ke depan dan mempresentasikan hasil wawancaranya dengan pihak kelurahan, tentang kepemimpina. Subhanallah, penampilannya hari ini, keren sekali, intonasi suaranyapun stabil dan berwibawa, cukup lama aku memperhatikannya menyampaikan materi, tapi setelah ku tersadar, akupun merasa malu, segera ku alihkan pandanganku pada buku bacaan yang semenjak tadi menempel di tanganku. Semoga saja Nisa yang duduk disampingku tidak sadar dengan sikapku padanya.
Telah dibuka sesi pertanyaan, Nisapun mengangkat tangan dan bertanya, tetapi ia kurang pandai menyusun pertanyaanya, sehingga Arya, Mutia, dan Teman-temannya sulit membaca maksud Nisa, aku temannya, akupun paham maksud pertanyaan Nisa, dan sialnya aku disuruh Pak Joko menjelaskan maksud pertanyaan Nisa. Wajah Arya mengahadap padaku, sempat mata ini saling bertemu, konsentrasiku sempat buyar, ku layangkan pandanganku pada Mutia yang sedang mencatat pertanyaan. Jantungku berdetak keras, darahku mendidih, kringat dingin membasahi wajahku, sungguh aku nerves saat matanya menatapku. Ku coba bersikap wajar, ku dengarkan jawaban Arya menjawab pertanyaan Nisa tadi, jawabannya simple namun berbobot, membuatku semakin mengaguminya, sehingga tak mampu membencinya.
Kulianya pak Joko telah selesai, akupun bersiapun untuk kuliah selanjutnya yaitu sosio Antopologi. Ku lihat Adil maju ke depan kelas dan berkata“Teman-teman ini ada tugas diskusi dari Bu Nurul, bahwa beliau tidak bisa mengajar karena sakit, ini sudah dibagikan anggota kelompoknya masing-masing” ku tak memperhatikan nama-nama kelompok yang seddang ditulis sekretaris kelas di depan, aku lebih konsentrasi membuat puisi dengan judul”Pantaskah aku untuknya”.
Nisa memegang pundakku dan berkata”kamu satu kelompok dengan Arya, Vina dan Mutia”mendengar kata Arya disebutkan akupun kaget dan terdiam, tak ku tanggapi infonya, tapi aku bertanya dalam hati, kenapa harus ada Mutia. “Mutia dan Arya seperti berjodoh ya, Syah? Satu kelompok terus, bahkan aku dengar mereka kemarin jadian, cocok sih, Arya ganteng, Mutia juga cantik” terasa runtuh hati ini, pikiranku semaput, jantungku behenti sejenak, nafasku sesak, dan darahku panas, terasa tidak percaya dengan omongannya Nisa, namun ternyata kabar itu membuktikan kebenaran kabar burung beberapa waktu lalu, bahwa Arya mencintai salah satu wanita di kelasku, ternyata wanita itu Mutia. Aku tak berminat lagi mengikuti kuliah ini, biarlah tugas diskusi aku kosong, yang pasti aku ingin pulang. Ku bawa tas dan bukuku, segera tanpa ijin ataupun bicara, hanya ku beri tanda pada Nisa bahwa aku pulang, akupun berjalan dengan ketegaran nampaknya, namun dengan hati yang runtuh menerima kenyataan.
Kakiku terasa lemas, berjalanpun terasa tak berenergi, aku hendak pulang, meski kaki ini berat untuk dilangkahkan, akupun berjalan ke tempat parker sepeda, 10 meter lagi hendak sampai, tetapi mataku tertuju pada musholah mungil, akupun mengurungkan diri untuk pulang, tapi aku putuskan menenagkan diri di mushola itu. Tak ku lihat satupun orang didalamnya.
Jam menunjukan jan 10.47, masih ada waktu untuk sholat sunah Dhuha, segera ku ambil wudhu dan bergegas melakukan sholat 2 rokaat. Hatiku sedikit tenang mengingatNya, ku sempatkan tuk berdo;a padaNya, bertanya tentang sikapku yang mengaguminya, apakah ku salah? Ku tahu Mutia masih diatasku, dia lebih cantik dari pada aku,selain itu dia pintar, senyumnya manis, badannya seksi, sedangkan aku hanyalah wanita biasa. Allah kalau ia bukan untuk ku izinkan aku tuk melupakannya, izinkan aku untuk menghapus namanya di hatiku, izinkan aku tuk berhenti memikirkannya. Amin.
Belum sempat kurapikan mukena yang membungkus badanku, tiba-tiba Arya telah berdiri di pojok sudut mushola, kakiku gemetaran, badanku sedikit menggigil,perasaanku sejenak menjadi kalud, aku benar-benar takut, jangan-jangan dia mendengar do’aku. Ku mencoba untuk tenang dan berpura-pura tidak tahu, segera ku rapikan mukenaku dan akan bergegas pulang. Ku lihat Arya berjalan ke araku dan berkata “Syah, kamu sama dengan Mutia, namun, kamu libih dekat denganNya, itulah nilai lebihmu, I Love You” sarafku berhenti sejenak mendengar itu, ku coba tuk berpikir logis, mukin ia Cuma bercanda atau salah ngomong,bukankah dia telah berpacaran dengan Mutia, dan ternyata ia mendengar setiap kata yang ku aduakn padaNya dalam do’aku. Ku bertanya padanya dengan keluguan “Ap Ar? Jangan bercanda, cinta bukanlah permainan dan lelucon” “apa maksudmu Syah? Aku benar-benar mencintaimu sejak lama. Namun ku hanya bisa menyembunyikan perasaanku lewat kecuekanku padamu. Baru kali ini ku bisa mengungkapkan perasaanku” mendengar jawabannya, sulit aku mempercayainya, akupun bertanya”kenapa tiba-tibakau disini, bukannya ada tugas diskusi? Ku lihat ia masih berdiri depanku dengan mata menatap tajam ke wajahku ku dengar ia berkata”aku menyusulmu, melihat kau pergi dengan raut wajah kekecewaan, akupun bertanya pada Nisa, katanya kau pergi setelah mendengar kata Mutia yang bersemayam di hatiku, padahal nama wanita yang terukir dihatiku adalah kamu, saya minta maaf,dengan sikapku yang angkuh padamu, tapi sejujurnya itu ku lakukan karena menyembunyikan perasaanku, aku terlalu takut, cintaku bertepuk sebelah tangan, jadi ku ku piker dengan kecuekanku padamu perlahan bisa melupakanmu, aku merasa tak pantas untukmu, sebagai wanita, kau terlampau sempurna, selain wajahmu secantik bidadari, kau juga mempunyai hati bagai malaikat, tapi setelah hari ini ku tahu, kau juga mempunyai perasaan yang sama denganku, aku bersyukur pada Allah. Hatiku telah tenang, semoga kita berjodoh, nantinya” ”subhanallah” hanya kata itu yang terucap dari bibirku mendengar pengakuannya. Sejenak aku tersadar,ternyata aku telah berdosa, membiarkan setan mempermainkan hatiku, hingga aku lupa bahwa aku telah berjanji dengan almarhum ayahku, bahwa dalam kehidupanku tak ada pacaran sebelum menikah, yang ada hanya pacaran setelah menikah.
Mukena telah ku rapikan, hatiku telah tenang, tak ada perasaan yang mengganjal di jiwaku, ku katakan padanya” makasih Ar, kau telah mengingatkanku, arti sebuah keyakinan dan penghormatan, setidaknya sekarang kita sama-sama mengetahui perasaan kita masing-masing, kau perduli padaku, dengan pura-pura cuek kitika bertemu, agar ku tak terjerumus dalam lingkaran setan, dan tak terpedaya nafsu, , ternyata itu sebabnya meski sifatmu menyebalkanku namun ku tak sanggup membencimu, ternyata Allah lebih tahu” ku lihat ia tersenyum dan berkata”Alhamdulillah, kalau demikian, kita mempunyai pikiran yang sama, mulai besok aku akan pergi ke Amerika selama 1 tahun, pertukaran mahasiswa. Ku titipkan kau padaNya, dan aku minta percayakan hatiku padaNya pula, kalau kita berjodoh, yakinlah Allah akan mempersatukan kita” ucapannya menggetarkan hatiku, ku hanya mampu menundukan wajahku dan tersenyum simpuh, tanda aku menyetujuinya.
Ku lihat ia menyodorkan selembar kertas bertinta, ku terima kertas itu, setelahnya, iapun pergi dengan mengucap salam. Ku lihat pundaknya dari belakang, seperti ayahku, berjalan meninggalkanku sendirian di musholah. Aku mencari tempat yang nyaman untuk duduk, meresapi untaian kata di kertas pemberiannya. Di samping musholah ku melihat pohon mangga dengan kursi kayu dibawahnya. Kamukah yang ku cari kalimat itu yang tertera dibagian atas, ku pikir ini sebuha puisi. Hatiku bergetar melihatmu, wajahmu secantik bidadari, hatimu semulia malaikat, aku malu pada diriku, lidahku membisu tuk menyapamu, namun mataku tak sanggup berpaling ketika melihatmu, tulang rusuk kiriku telah hilang, semoga kau mampu menggantinya.
“subhanallah, semoga kita berjodoh” kataku dalam hati. Ku bergegas tuk pulang, ku ingin minta maaf dan menceritakan hari ini pada ibuku, tak mau ada hal yang ku tutupi darinya, karena ku sadar, semenjak ku mengagumi Arya, tetapi kecuekannya yang ku dapatkan, sifatku di rumah berubah, seperti bukan diriku sebenarnya.
Cerpen "Adikku dan Epilepsy"
ADIKKU DAN EPILEPSY
Aku termenung disudut rumah sendiri berteman buku pelajaran yang membosankan bagiku. Besok aku ujian, ya begitulah umumnya mahasiswa, belajar giat ketika dekat waktu ujian. Akupun menjadi mahasiswa pada umumnya, bagiku belajar jauh-jauh hari itu tidak evektif , tidak ada tenaga pendorongnya, bagaimanapun aku percaya The power of kepepet. Belum sempat aku membaca, dan menghafal serta memahami buku itu, pikiranku keburu mubeng melihat buku-buku tebal tertumpuk di depanku, dan semangatkupun menjadi pudar. Akupun berdiri, dan berjalan ke dapur, berharap ada makanan yang dapat menemaniku belajar.
Ku lihat di dapur jajanan pasar, makanan khas desa, seolah memanggil ku untuk mengambilnya, dan memakannya. Aku telah memegangnya dan hendak ku cicipi, belum sempat makanan itu menempel lidahku, aku terkaget mendengar suara,,,Prak,, Debog.. dari depan rumah. Aku segera berlari menuju sumber suara, ku lihat adikku Bambang Irawan telah tergeletak, kejang-kejang, meronta dan keluar busa dari mulutnya.
Keempat adikkupun berkerumun ingin membantunya, tapi mereka hanya sebatas melihat, karena sudah ada ibuku yang membantu mengusap busa dimulutnya serta memiringkan kepalanya agar aliran nafasnya tidak sumbat. Mukin adikku hanya bisa melihat tapi aku masih bisa membantu ibuku meluruskan kakinya, mengambil bantal untuk sandaran kepalanya serta menbantu mengangkatnya ke lantai. Sebenarnya kalau tanpa dipindahkan tidak masalah, namun ibuku terlalu kasihan membiarkan adikku tergeletak tak berdaya diatas pasir, halaman rumah.
Ku lihat adikku Bambang telah berangsur membaik, nafasnya tidak terengah-terengah lagi, busa dari mulutnyapun terhenti, dan setelahnya iapun tertidur, melepas kelelahan melawan kejang epilepsy yang bersemayam di dalam dirinya. Ku lihat ibuku berjalan ke dalam rumah dan kembali membawa selimut dan ia tutupkan di atas badan adikku yang malang itu. Aku melanjutkan belajarku yang tertunda karena makanan dan adikku.
Sekarang ada makanan disamping buku-buku yang akan ku pelajari, namun pikiranku tak sanggup ku buka lagi, tertlalu penuh dengan bayangan-bayangn adiku tadi. Memang benar, nasibnya teralu malang, pikirku, ia tak bisa hidup normal seperti kami, kakak dan adik-adiknya, maupun hidup normal seperti orang lain, tak dapat bermain bebas, dan ruang geraknyapun terbatas, sehingga terpaksa ia harus ikhlas bersetatus tamatan SD, sedangkan aku kakaknya dapat bersekolah hingga menjadi mahasiswa, 2 adiknya pelajar SMP, 1 anak SD dan yang bungsu belum bersekolah.
Kami 9 bersaudara, aku anak ke 4 dan ia anak ke 5, anak penengah yang diharapkan menjadi tempat memecahkan seetiap persoalan keluarga, tetapi melihat kondisinya yang demikian, akupun ragu, ia dapat berperan sebagai penegah
Kami kakak beradik, namun, jarak kelahiran kami yang terlampau dekat, hanya 1 tahun, serta, hari lahir kami yang sama, menjadikan kami mempunyai banyak persamaan dan seolah anak kembar. Ikatan batinku dengan dia lebih rekat dibandingkan ikatan batinku pada ke 4 adikku yang lain, meski kami kadang saling iri dan sering kali bertenngkar, dan ketika kami bertengkar, ibuku yang mererai, karena kakak-kakakku merentau dan ayahku selalu diladang dari padi hingga sore.
Itu dulu, ketika aku masih anak-anak dan ketika epilepsy yang bersemayam dalam dirinya belum separah sekarang. Waktu kecil ia masih dapat bermain, berlari-lari bersama teman-teman sekolah SDnya, keceriaanya terputus ketika ia menginjak kelas enam SD. Tak tahu asalnya dari mana penyakit itu datang, ayah dan ibukupun tak tahu, apalagi aku.
Kelas 2 SD, kulihat dari hidung bambang adikku, keluar darah yang tak henti-henti, malamnya ia kejang, dari keluarga sudah membawanya ke puskesmas, karena kami hanya mampu membawa ke puskesmas. Setiap hari khususnya malam, adikku kejang, tak lama hanya kurang lebih1 menit, sehari 2 kali waktu itu. Namun sekarang setiap tahun, presentasi waktu kejangnya semakin padat. Hingga pada usianya yang hampir 18 thn setiap harinya tak kurang dari 20 menit, ia kejang dan mengeluarkan busa bahkan setiap malam ia membangunkan kami dengan menjerit dan berteriak sendiri, setelah paginya kami bertanya padanya, ia tak sadar berteriak atau bahkan tak sadar membentak ibuku, orang yang selalu membantunya dan ada disampingnya. Ia kehilangan kesadaran mungkin selain epilepsy yang bersemayam di badannya, aku pikir, setan atau jinpun ikut singgah di raganya
Tidak setiap malam ia berteriak dan membantak kami, biasanya pada saat-saat tertentu, atau pada kondisi tertentu, misalnya pada saat ia paginya terlalu kelelahan mencari kayu bakar, atau karena ia melakukan ibadah, sehingga kami pikir ketika ia mau sholat dan berzikir kepada Allah, seolah di dalam dirinya ada yang marah.
Pernah aku melihat, dan mendengar, ibuku berdoa dalam sholatnya, yang intinya ia bertanya padaNya, apa salahnya dan suaminya sehingga Allah berikan cobaan epilepsy untuknya. Aku merenung memikirkan ayah ibu serta kemalangan nasib adikku. Apakah nanti adikku dapat berkeluarga, apakah ada wanita yang mau menikah dengannya, sedangkan dia, setiap harinya tak kurang dari 50 kali ia kejang-kejang dengan mulut berbusa, hidupnya harus berhati-hati terhadap air, dan api, maupun benda-benda tajam yang membahayakannya, sedangkan kami keluarga biasa, bukan orang yang bergelimangan harta.
Aku terlalu jauh berpikir, semakin aku berpikir, otakku semakin tertutup memasukkan bahan ujian diotakku. Aku berdiri dan berjalan lagi masuk rumah, tak ku lihat Bambang di tempatnya, ku pikir ia telah pergi lagi, tak tahu kemana, biasanya ia main kerumah Wa KO saudara kami di belakang rumah, duduk diterasnya, dan mengobrol disana. Ku tahu secara naluri ia ingin hidup normal, kalau bisa ia ingin sekali bermain dengan teman-teman SDnya, naik sepeda bersama, yang tentunya teman-temannya sekarang saya yakin telah menjalani hidupnya masing-masing baik sekolah maupun berkerja. Kami tak kwatir jika Bambang main di Wa KO , karena Beliau sudah paham dengan penyakit adikku dan akan membantunya.
Ku lihat ibuku sedang menggoreng tempe dan akan memasak sayur kangkung kesukaanku.”Ku bantu ya Bu? Tanyaku padanya, ku lirik wajah tuanya yang lelah dan ku dengar ia berkata “ Tidak usah Sri, kamu harus belajarkan? Besok ujian, jangan sampai nilaimu rendah, nanti beasiswa kualihmu dicabut”. Aku hanya tersenyum dan segera ku potong sayuran kangkung yang dari tadi berdiam diri sendirian tak terjamahkan, dan ku katakana padanya”santai saja Bu, masalah beasiswa, insya Allah masih aman, nilai saya juga masih diatas nilai minimal yang ditentukan universitas”
“Bambang kemana Bu?” tanyaku padanya mengalihkan pembicaraan, meski ku tahu kemana biasanya ia pergi”main ke Wa KO” katanya aku hanya terdiam, sejujurnya aku ingin berkata sesuatu, agar ikhlas dengan penyakit anakknya namun aku bingung menyampaikanya, karena ku sadar aku hanyalah anak yang tak tahu apa-apa tentang beban orang tua.
“Sri, apakah penyakit epilepsy tidak dapat disembuhkan? Mendengar pentanyaannya, aku sedikit kaget namun aku merasa mempunyai kesempatan untuk menyampaikannya. “bu, semua penyakit itu ada obatnya, kecuali kematian, demikian juga epilepsy” ku berhenti sejenak ku lihat ibuku tak merespon, ku tahu mesti bayak pikiran yang bersemayam dalam kepalanya. Ku lanjutkan pernyataanku” Bu, bukankah ibu dan ayah telah berusaha keras, habis-habisan mengobati bambang, mukin Allah belum memberi kesembuhan, sekarang ibu tawakal saja menyerahkan semuanya pada kehendak Allah, Bu Allah itu memberi yang terbaik untuk makhluknya, termasuk memberi epilepsy pada Bambang, mesti ada baiknya. Kalau dipikir-pikir, itu lebih baik buat bambang, coba bayangkan, kalau Bambang sehat, bisa jadi ia akan sangat nakal, sakit saja dia bandel, apalagi sehat, bisa-bisa hari-harinya di luar rumah. Selain itu, bukannya selama ini yang menemani ibu di rumah itu Bambang?, mana bisa saya, dan adik-adik lain, menemani ibu, kitakan sering di luar rumah, kita harus sekolah. Dan satu lagi Bu, saya mendengar hadis nabi, bahwa suatu ketika, Nabi Muhammad Saw, kedatangan seorang wanita yang minta di do’akan, agar ia sembuh dari penyakit epilepsynya, namun Nabi menawarkan padanya, dapat nabi do’akan dan ia sembuh, atau ia ikhlas dengan penyakitnya dan mendapat surgaNya, wanita itu memilih ikhlas dan minta dido’akan agar ketika kejang-kejang auratnya tidak terbuka. Jadi bu, semoga saja Bambang akan mendapat surgaNya kelak, amin, karena kehidupan surga itu lebih enak dari pada dunia ini” ku hentikan ceramahku yang kepanjangan dan terdengar sok piter itu, lagi-lagi kulihat wajahnya yang hampir selesai menggoreng tempe, ku lihat senyuman kecil dari bibirnya, aku meresa lega.
Ia sadar aku melihatinya, iapun mengalihkan pembicaraan dengan berkata” ini sri , tempe gorengnya dah matang, kamu bisa mencicipi, untuk kangkungnya, kamu saja yang masak ya? Ibu mau melihat dan mengantarkan tempe goreng ini ke Bambang” aku tersenyum dan tertawa dalam hati ku jawab”iya bu” ku lihat ibuku pergi, berjalan ke rumah Wa Ko, dengan beberapa potong tempe goreng di dalam piring di tangannya.
Langganan:
Postingan (Atom)

